Setuju tidak setuju, Shandy Aulia boleh dibilang sebagai aktris primadona film horor Indonesia dalam beberapa tahun belakangan lewat berbagai film horor yang ia bintangi sejak film Rumah Kentang (2012) sampai Perjanjian Dengan Iblis yang rilis awal tahun 2019 ini. Tercatat dalam kurun waktu tujuh tahun sejak film horor pertamanya, sudah ada delapan film bergenre horor lain yang dibintangi Shandy Aulia.

Kini, melakoni peran barunya sebagai produser sekaligus penulis ide cerita dan pemeran utama, Shandy bersama rumah produksi Screen Avenue yang bekerjasama dengan Open Door Films menggaet sutradara Rudy Aryanto untuk memproduksi film horor kesembilannya, Kutuk yang juga dibintangi oleh Alice Norin, Stuart Colin, Bryan McKenzie, Vitta Mariana dan Laxmi Darra. Film Kutuk direncanakan rilis mulai tanggal 25 Juli 2019 di seluruh bioskop Indonesia.

film Kutuk

Loading...

Sinopsis

Maya (Shandy Aulia) baru saja mulai bekerja di sebuah panti jompo yang dipimpin oleh kepala panti bernama Elena (Alice Norin) dengan supervisi dari dokter Sean (Stuart Colin). Tidak hanya kesulitan untuk menghadapi perawat senior Gendis (Vitta Mariana), Maya juga dihadapkan pada kejadian-kejadian aneh saat ia dihantui oleh seorang hantu perawat.

Peristiwa aneh yang mengusik Maya pun mengganggu kinerjanya. Tidak tinggal diam, Maya pun bertanya kepada Elena yang hanya memberi saran agar Maya lebih rileks dan menenangkan diri saja. Tidak puas dengan jawaban Elena, Maya juga bersusah payah bertanya kepada pemuda yang kos di dekat panti, Reno (Bryan McKenzie). Dari Reno pun Maya tidak menemukan jawaban memuaskan. Sampai akhirnya teror hantu makin mengganas dan membuat Maya harus berbuat nekad demi mengungkap misteri yang tersimpan di panti jompo terkutuk tersebut.

film Kutuk

Ulasan

Pengalaman Shandy Aulia membintangi banyak film horor agaknya membuat dirinya yakin untuk memproduksi film horor sendiri. Meskipun memakai jasa sutradara Rudy Aryanto (Surat Cinta Untuk Starla, The Way I Love You) yang baru pertama kali menyutradarai film bergenre horor, Shandy nampaknya cukup percaya diri dalam membuat film Kutuk.

Lewat skenario karya Fajar Umbara (Ikut Aku Ke Neraka, Sabrina, Mata Batin) yang sudah makan asam garam menulis film horor dan berdasarkan dari ide cerita Shandy Aulia sendiri, film berdurasi 82 menit ini menggunakan hampir 90% lokasi film di satu set rumah panti jompo.

Skenario film cukup baik dalam menanamkan misteri sejak awal film, hanya saja terasa minim kejadian-kejadian signifikan di babak pertama dan kedua film. Dari perkenalan pada karakter Maya, hari pertama kerja, sampai ke rasa penasarannya akan peristiwa aneh yang ia alami terasa kurang diselipkan adegan-adegan dengan intensitas tinggi sebagaimana layaknya film-film horor yang baik. Film terasa berjalan datar dan minim konflik di awal sampai pertengahan film.

film Kutuk

Jumpscare atau adegan-adegan mengejutkan yang intens nyaris tidak muncul di sampai setidaknya akhir babak kedua film. Sebuah jumpscare saat Maya duduk di depan meja rias cukup mengagetkan dan digarap dengan baik, tapi terasa terlambat karena paruh awal film berpotensi membuat penonton bosan. Paruh kedua film, terutama misteri mulai terungkap, film terasa lebih intens dan bergerak dari horor supernatural menuju ke arah horor thriller.

Penggarapan Rudy Aryanto patut diacungi jempol berkat kinerjanya yang baik di babak ketiga film yang grafik intensitasnya makin meninggi sampai ke klimaks film. Beliau cukup mampu mengarahkan divisi teknis dengan baik. Sinematografi arahan Asep Kalila (Sabrina, The Doll 2, Mata Batin) kembali tidak mengecewakan dengan gambar cantik, pergerakan kamera yang apik serta komposisi yang menawan.

Adegan di lorong panti dengan cahaya matahari menembus jendela menjadi adegan favorit saya karena komposisi blocking properti, lighting dan blocking pemain yang apik. Tapi cantik saja tidak cukup karena dalam segi menangkap esensi horor, Asep kurang memberikan kesan ngeri pada panti jompo tersebut. Sehingga atmosfer horor kurang tercipta dalam film secara visual. Begitu pun secara audio, musik yang digubah Aghi Narottama (Pengabdi Setan, Kafir) entah kenapa kurang terasa horor di beberapa bagian, utamanya di beberapa adegan jumpscare.

film Kutuk

Sisi artistik yang mengesankan suasana 1990-an dengan properti barang antik, editing, tata suara dan musik yang baik, wardrobe yang stylish serta make up yang menawan menjadi bagian yang tidak mengecewakan, kendati tidak sempurna. Spesial efek menjadi divisi yang patut diberikan apresiasi baik efek praktis maupun CGI. Adegan orang kesurupan, ranjang terbang (meski terasa repetitif dalam film horor) serta gore yang tersaji sangat patut diberikan acungan jempol memberikan citarasa dalam film.

Dari sisi akting semua pemain rata-rata bermain baik dengan pujian terbesar patut disematkan pada sosok Alice Norin (Psikopat, Ketika Cinta Bertasbih) yang bermain di atas ekspektasi berkat totalitasnya melakoni karakter yang cukup menantang. Sementara Shandy Aulia menjadi yang terlemah bukan karena aktingnya yang jelek, melainkan pengucapan dialognya yang kerap terasa senada. Setiap Shandy berdialog yang selalu muncul di bayangan saya adalah karakter Tita miliknya di film Eiffel, I’m In Love.

Di luar kekurangan dari sisi akting, kurangnya atmosfer horor yang tercipta, film ini dirusak oleh akhir film yang sangat tidak masuk akal. Tercatat dua bagian krusial dalam film yang secara logika kurang masuk akal. Pertama, soal twist. Pelintiran cerita soal apa yang terjadi dan siapa yang jahat sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja apa yang dilakukan si pelaku sangat di luar kewajaran dan cukup aneh saat pelaku melakukan itu dan meletakkan hasil perbuatannya di situ (Sorry.. no spoiler).

film Kutuk

Adegan kedua adalah saat adegan interview di penghujung film. Sungguh di luar kewajaran saat melakukan interview dan memasang benda itu di bangku samping pewawancara, belum lagi nama orang yang diwawancara yang.. ugh.. mengesalkan. Twist dan akhir film ini sungguh sangat tidak logis, sangat dipaksakan dan banyak mempengaruhi penilaian saya terhadap film.

Kesimpulan Akhir

Meskipun naskahnya tidak berbicara banyak dan memiliki masalah logika cerita di bagian akhir, jumpscare-nya terasa lemah serta alur film yang berjalan lambat di awal film, namun film Kutuk masih mempunyai senjata di eksekusi babak ketiga yang cukup seru dan digarap apik, sinematografi menawan dan akting Alice Norin yang solid. Kutuk memang bukan film horor terbaik tahun 2019, tapi juga bukan yang terburuk. Film horor pertama yang diproduseri Shandy Aulia ini masih layak dinikmati oleh para penggemar film horor dengan bumbu misteri dan thriller.

Note: Scroll / gulir ke bawah untuk melihat rating penilaian.

Loading...

Review Film Kutuk (2019) - Misteri Hantu Gentayangan Di Panti Jompo
5Overall Score
Reader Rating 7 Votes
7.2