Usaha Soleh Solihun dalam film perdananya sebagai aktor utama dan sutradara ini patut diapresiasi lebih, film ini mampu tampil menghibur, lucu dan menyenangkan.
7.5Overall Score
Reader Rating 7 Votes
7.1

Soleh Solihun adalah salah seorang stand up comedian ternama di Indonesia. Sebelum meniti karir menjadi seorang comic, Soleh pernah bekerja sebagai reporter untuk Trax Magazine dan Editor di Playboy Indonesia dan Rolling Stones Indonesia. Film Mau Jadi Apa? adalah sedikit banyak kisah hidup Soleh di masa kuliah yang berkaitan dengan keputusannya berkarir di dunia jurnalistik. Dengan premis serius soal pertanyaan yang muncul oleh banyak mahasiswa saat ditanya hendak jadi apa setelah lulus kuliah, film ini tampil dengan balutan komedi yang kental, nuansa khas tahun ’90an lengkap dengan musiknya,  serta sedikit bumbu romantis yang mewarnai film berdurasi 103 menit ini.

Film produksi Starvision ini disutradarai oleh Monty Tiwa dan Soleh Solihun di pengalaman perdananya sebagai Pemeran Utama sekaligus Sutradara. Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Jumat, 17 November 2017 di bilangan Epicentrum, Jakarta, Soleh menjelaskan keputusannya berduet dengan Monty adalah wujud keseriusannya untuk belajar menjadi sutradara. Monty yang pernah mengarahkannya dalam beberapa film dianggap cocok menjadi tandem sekaligus sosok yang dijadikan guru untuk Soleh menjadi seorang sutradara.

Mau Jadi Apa? bermula saat Soleh (Soleh Solihun) mengikuti Ospek Jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung. Di sana pertama kali ia bertemu dan terkesima melihat Ros (Aurelie Moeremans), sesama Slanker (fans grup band Slank) dan peserta Ospek. Rasa cinta pun tumbuh di hati Soleh terhadap Ros. Seusai Ospek, selama awal perkuliahannya Soleh membentuk ikatan pertemanan dengan 5 orang teman satu kampusnya, yaitu Marsyel (Adjis Doaibu), si cowok romantis pengagum yang mendambakan cinta Putri (Putri Marino); Eko (Awwe) Si penggila musik doyan mencela; Fey (Anggika Bolsterli), cewek blasteran cantik namun selalu bersemangat, sampai kadang gila; Lukman (Boris Bokir), si jago gambar; dan Syarif (Ricky Wattimena) yang berhati lembut namun “bermulut besar”.   

mja 4 MJA 1

Berenam mereka menjalani masa kuliah dengan pergumulan masing-masing. Berbagai kegiatan dan organisasi yang mereka ikuti di kampus tidak dijalani dengan serius, bahkan Soleh yang mencoba masuk ke majalah Fakjat (Fakta Jatinangor) demi menyalurkan kemampuannya menulis (sekaligus mendekati Ros) malah dirundung oleh pemimpin redaksi Panji (Ronal Surapradja), akibat menelurkan ide yang dianggap tidak serius. Pergumulan keenam sahabat yang diiringi canda dan tawa ini memuncak saat mereka bertanya ke diri sendiri mau jadi apa mereka setelah lulus kuliah.

Ide Soleh untuk membuat majalah tandingan Fakjat pun disambut hangat. bersama-sama mereka menciptakan Karung Goni, sebuah majalah kampus alternatif yang perlahan namun pasti menjadi majalah yang digandrungi mahasiswa. Dengan berbagai artikel ringan dari mulai ajang Foto Hot Babes kampus, konsultasi hubungan asmara, dan gosip sekitar kampus dimuat di Karung Goni. Sampai sebuah kasus yang berkaitan dengan nama baik seorang dosen menjadi batu sandungan yang menguji kelangsungan persahabatan mereka.

Dengan menjadikan film 3 Idiots sebagai referensi film yang mengangkat kehidupan perkuliahan, produser film Chand Parwez Servia menyatakan keputusannya mengangkat kisah hidup Soleh Solihun karena memiliki potensi besar menyampaikan kisah penting tentang mempertanyakan jadi apa setelah lulus kuliah. Skrip yang dituliskan oleh Agasyah Karim dan Khalid Kashogi merupakan sebuah skrip coming of age menarik dengan formula breaking the fourth wall yang dilakukan Soleh.

mja 2 mja 3

Sebagai sebuah film bergenre komedi tentu saja kata lucu menjadi penilaian yang paling objektif, dan film ini mampu menampilkan berbagai elemen komedi yang baik. Dari mulai elemen celetukan yang dilontarkan dengan cepat dan memakai banyak referensi, diantaranya lagu anak tahun ’90-an yang bisa jadi garing seandainya tidak dimengerti para milenial. Komedi canggung yang timbul dari karakter Soleh yang datar dan cupu walau berambut gondrong, serta komedi toilet yang menggunakan adegan dan kata-kata yang berkaitan dengan isi di dalam toilet. Tidak semua lawakannya mengena, tapi mampu memberikan nilai lebih dari hiburan yang dihasilkan. Chemistry para comic yang sudah sering bekerjasama, seperti Awwe dan Adjis Doaibu dari film Cek Toko Sebelah terlihat jelas di beberapa elemen komedi dalam film ini.

Dari sisi akting pemain, Soleh sangat baik memerankan karakter datar, cupu dan canggung dengan beberapa kali muncul semangat saat membicarakan musik yang ia suka, antusiasme itu terlihat. Sosok kelima sahabatnya tidak terlalu dalam ditampilkan pergumulannya, persoalan kuliah di luar negeri Eko dan Fey yang bertolak belakang menjadi yang paling emosional. Sementara asmara Marsyel dan Putri serta cerita Lukman dan ayahnya seakan dipaksakan ada, kurang dalam dan tidak ada emosinya. Karakter Syarief lebih parah, ia seperti tidak memiliki masalah dalam hidupnya, namun dikompensasi saat klimaks film menjadi sosok yang paling berkontribusi dan mendapat banyak dialog.

Sisi teknis film cukup baik dengan visual yang mampu menggambarkan suasana Kampus Jatinangor ’90-an. Memang beberapa shot padat dan statis untuk menghindari kebocoran setting tahun 2017, namun beberapa kali shot wide dan establish yang muncul cukup memberikan penyegaran. Yang menjadi juara dalam film ini adalah pemilihan musik dan lagu latar yang dengan sangat baik mewakili suasana ’90-an yang penuh musik alternatif dari band-band legenda Indonesia seperti Slank, Pas Band, Netral, Pure Saturday, Plastik, dll. Musiknya asyik, nyata benar pengaruh Soleh dari sisi pemilihan musik.

mja1 mja6

Final Verdict

Sebagai film komedi yang berusaha menyampaikan tema serius soal cita-cita dan mempertanyakan eksistensi setelah melalui fase kuliah, film Mau Jadi Apa? cenderung sukses menyampaikan sisi komedinya dengan baik. Berbagai kelucuan, celetukan, canda dan dialog komedinya mengalir mulus dan lucu. Kendati penulis sedikit mempertanyakan pengetahuan milenial tentang beberapa materi komedi yang kental nuansa ’90-annya. Kedangkalan masalah yang dialami beberapa karakternya sedikit mengurangi nilai film, namun esensi makna judul Mau Jadi Apa? tersampaikan dengan lugas.

Usaha Soleh Solihun dalam film perdananya sebagai aktor utama dan sutradara bersama Monty Tiwa ini patut diapresiasi lebih untuk disaksikan di bioskop bersama keluarga atau teman-teman. Film ini mampu tampil menghibur, lucu dan menyenangkan.