Jennifer Lopez sempat menjadi bintang utama di banyak film Hollywood selama satu dekade pada awal milenium. Di antara karirnya yang gemilang sebagai penyanyi, beberapa film Lopez yang bergenre drama komedi romantis seperti The Wedding Planner, Maid in Manhattan dan Monster in Law cukup menarik minat banyak penonton dengan penghasilan yang cukup baik di tangga box office meski dengan budget minimalis.

Kini, dengan dipasangkan bersama Milo Ventimiglia (Serial TV This Is Us, Gilmore Girls) dan diarahkan oleh sutradara Peter Segal (Get Smart, 50 First Dates), Lopez kembali muncul dalam film bergenre drama komedi romantis dengan bumbu drama keluarga yang berjudul Second Act yang akan rilis menyambut valentine tanggal 13 Februari 2019 di bioskop Indonesia.

Sinopsis

Di suatu pagi di hari ulang tahunnya Maya Davilla (Jennifer Lopez) tengah khawatir menyambut presentasi program unggulannya kepada pemilik supermarket tempat ia bekerja selama 15 tahun. Maya khawatir karena gelar diploma yang ia miliki kemungkinan tidak bisa membuatnya naik jabatan menjadi manajer supermarket yang baru meskipun program online shopping yang ia inisiasi disambut gemilang oleh bosnya. Benar saja, sang bos Weiskopf (Larry Miller) menunjuk orang lain yang memiliki gelar MBA sebagai manajer baru.

Maya tidak menikmati pesta kejutan ulang tahun yang disiapkan teman-temannya meskipun Trey (Milo Ventimiglia) sudah berusaha menghibur dan menenangkannya. Saat meniup lilin ulang tahun, Maya mengungkapkan birthday wish untuk bisa bekerja di tempat dimana pengalaman kerja lebih diutamakan dibandingkan gelar akademik. Hal ini didengar oleh anak sahabatnya Joan (Leah Remini) yang bernama Dilly (Dalton Harrod). Dengan keahliannya dalam teknologi informasi dan komputer, Dilly memalsukan data CV Maya dan mengirim CV palsu tersebut ke perusahaan besar Franklin & Clarke. Maya pun terkejut saat dipanggil wawancara langsung oleh pemilik perusahaan, Anderson Clarke (Treat Williams) dan baru mengetahui bahwa CV yang dikirim merupakan CV palsu karangan Dilly.

Sudah kepalang tanggung dan terpicu keinginan untuk memperbaiki karirnya, Maya pun menerima tawaran pekerjaan sebagai konsultan divisi pengembangan produk di Franklin & Clarke. Trey tidak setuju dengan keputusan Maya yang tidak mau jujur dan menolak diajak menikah dengan alasan karir dan waktu yang tidak tepat. Hubungan mereka pun putus, namun Maya tidak lama-lama bersedih. Berkat CV palsunya, Maya mendapat jabatan tinggi yang diberikan fasilitas apartemen besar di tengah kota, kartu kredit perusahaan, dll. Tapi Maya menemukan kenyataan pahit saat tantangan pekerjaannya sangat berat.

Maya diberi waktu 6 minggu untuk menemukan produk baru yang bagus, 100% organik dan menguntungkan perusahaan, serta harus bersaing dengan Zoe (Vanessa Hudgens), anak pemilik perusahaan yang kompetitif.Maya pun segera memulai penelitiannya bersama rekannya Hildy (Annaleigh Ashford), asistennya yang takut ketinggian Ariana (Charlyne Yi) dan analis yang dikucilkan Chase (Alan Aisenberg). Di tengah penelitiannya, Maya menemukan kenyataan baru yang berkaitan dengan masa lalunya.

Ulasan

Kisah yang mengikuti formula drama komedi tradisional semakin jarang diproduksi oleh studio-studio film besar dan diedarkan secara luas. Kali ini STX Entertainment (Bad Moms, The Upside) berusaha mengangkat genre tersebut dan mengedarkannya secara luas, termasuk ke Indonesia. Film yang dirilis di Amerika sejak 21 Desember 2018 ini memiliki performa baik dengan meraih 3 kali lipat biaya produksi selama edar di Amerika Utara saja.

Secara umum naskah film karya Justin Zackham dan Elaine Goldsmith-Thomas ini mengalir lancar dengan satu kejutan cerita di tengah cerita. Plot kejutan tersebut bisa membuat pendapat penonton terbelah antara merasa manis dan menyenangkan atau seakan mengada-ada. Beruntung keseluruhan film ini tidak bergantung sepenuhnya pada plot tersebut dan memiliki keunggulan dari hubungan antar para karakternya yang hangat dan terlihat nyata. Film ini secara keseluruhan tampil menyenangkan. Dengan performa gemilang dari Jennifer Lopez dan Leah Remini yang memiliki chemistry seperti benar-benar bersahabat.

Performa aktor lainnya tidak ada yang menonjol dengan Vanessa Hudgens yang masih berakting manis, Charlyne Yi yang tipikal dengan perannya selama ini, serta Milo Ventimiglia yang juga masih digambarkan sebagai lelaki tampan idaman wanita. Hampir tidak ada antagonis dalam film ini dan menyebabkan film ini sedikit kurang greget dari sisi konfliknya.

Sisi teknis produksi tidak ada masalah yang berarti. Film cukup baik menggambarkan kota New York yang sibuk dengan beberapa kali set di dalam kereta subway, stasiun, Brooklyn Bridge dan supermarket. Lanskap keindahan kota New York mampu ditangkap dengan baik oleh sinematografer Ueli Staeger (The Day After Tomorrow, Godzilla 1998), meskipun nuansa natal yang jadi latar waktu cerita tidak tergambarkan di dalam film. Tata suara, musik, editing, make up dan wardrobe juga mampu mendukung film sesuai dengan porsinya. Sutradara Peter Segal sangat baik mengarahkan film dengan budget 16 juta dollar ini.

Kesimpulan Akhir

Penonton yang rindu film bergenre drama komedi romantis dengan sedikit nuansa natal dan sentuhan unsur keluarga yang hangat sangat disarankan untuk menonton film ini. Dengan gaya ala drama komedi tahun ’90-an, Second Act mampu unjuk gigi dan tampil segar sepanjang durasi. Terlepas dari kurang gregetnya konflik dan karakater antagonis serta plot yang agak terlalu kebetulan dan mengada-ada, film ini tampil lucu dan menyenangkan dengan performa impresif Jennifer Lopez dan Leah Remini. Sebuah sajian film menghibur yang sangat layak untuk ditonton di momen hari valentine kali ini.

 

Review Film Second Act (2018) - Drama Komedi Formulaic Yang Sukses Menghibur Dan Menggelitik
7Overall Score
Reader Rating 2 Votes
8.3