Hasil box office dari film petualangan para gnomes atau patung kurcaci yang jenaka dari film Gnomeo & Juliet (2011) nampaknya cukup memberikan kepercayaan diri kepada studio untuk membuat sekuelnya. Dengan menambahkan karakter detektif legendaris Sherlock Holmes dan asistennya, Dr. Watson, film Sherlock Gnomes yang disutradarai oleh John Stevenson (Kung Fu Panda) ini akan rilis mulai tanggal 23 Maret 2018 di Indonesia.

Masih berpusat di sekitar kehidupan dua gnome atau patung kurcaci taman, Gnomeo (disuarakan oleh James McAvoy) dan Juliet (Emily Blunt) yang sudah menikah diserahkan tanggung jawab sebagai pemimpin sekumpulan gnomes di taman tempat mereka tinggal. Namun ternyata tanggung jawab tersebut membuat Gnomeo merasa terlupakan oleh Juliet yang setiap hari sibuk mengawasi dan memelihara taman. Apalagi saat para gnomes dihadapkan pada suatu momen relokasi ke sebuah taman di kota.

Saat baru saja menjejakkan kaki di taman yang baru, Gnomeo pun mengungkapkan kekesalannya. Gnomeo dan Juliet pun bertengkar dan tidak menyadari kalau para gnome di taman sudah diculik oleh seseorang. Di tengah kebingungan tiba-tiba muncul Sherlock (Johnny Depp) bersama asistennya Dr. Watson (Chiwetel Ejiofor) yang menemukan petunjuk siapa dalang penculikan para gnome tersebut. Gnomeo yang tidak percaya dengan analisa Sherlock mau tidak mau harus ikut penyelidikan karena Juliet justru mempercayai Sherlock yang menduga musuh bebuyutannya adalah dalang dari semua kasus penculikan ini. Keempat tokoh utama ini pun bertualang mencari para gnomes sekaligus mengungkap dan menangkap si penculik.

SG5 SG6

Dengan premis penculikan dan penyelidikan ala Sherlock Holmes, agak riskan sebenarnya kalau film ini disegmentasikan kepada penonton anak. Ini dikarenakan banyak sekali dialog Sherlock saat melakukan penyelidikan. Hasilnya bisa terlihat saat film seperti berusaha keras membuat anak-anak tertarik dengan karakter patung katak yang ‘dipaksa’ melucu, karakter dan tingkah polah gnome yang aneh-aneh serta memperbanyak adegan kejar-kejaran yang berpotensi slapstick untuk mengimbangi adegan aksi dengan dialog.

Penonton dewasa sepertinya akan sulit menikmati film ini. Dialog dalam film memang banyak, namun sama sekali tidak menarik. Terkesan lempeng tapi over, bisa dikatakan film ini terlalu ‘cerewet’ dengan plot yang mengalir tanpa ada klimaks yang terasa. Bahkan adegan penyelamatan para gnomes yang harusnya dramatis tidak terasa menegangkan sama sekali. Kurangnya ikatan dan simpati penonton pada karakter gnomes yang diculik juga menyebabkan klimaksnya kurang terasa.

SG7 SG3

Sementara itu, penonton anak akan dimanjakan oleh keunggulan film ini dari sisi animasi, karakter gnome yang berwarna-warni serta adegan slapstick yang lumayan banyak. Untuk plot cerita penyelidikan saya pikir anak-anak tidak akan perduli. Karakter Sherlock yang dijadikan judul pun tidak ditujukan buat mereka dan menurut saya presentasi film ini bisa dikatakan tanggung untuk penonton dewasa.

Final Verdict

Tidak ada salahnya menyajikan sebuah film animasi yang menghibur untuk anak-anak. Akan tetapi jika disajikan dengan serba tanggung dan menggunakan karakter legendaris yang hanya dipahami orang dewasa yang melakukan pekerjaan detektif dengan banyak memakai dialog akan menjadi sebuah blunder. Anak-anak bisa saja menyukai film ini lewat adegan slapstick dan animasinya, tapi akan sulit untuk penonton dewasa. Sebagai sekadar hiburan pelepas penat dan menyenangkan bolehlah film ini ditonton di bioskop. Apalagi ada sedikit twist diujung film yang bisa membuat sedikit tersenyum.

Animasi seru untuk anak-anak sekaligus perkenalan pada tokoh legendaris, Sherlock Holmes
6Overall Score
Reader Rating 1 Vote
5.6