Berlanjutnya wabah COVID-19 di seluruh dunia hingga saat ini membuat kian banyak film yang awalnya dijadwalkan untuk tayang di bioskop, pada akhirnya diluncurkan secara on demand. Termasuk dalam daftar tersebut adalah sebuah drama-komedi berjudul The High Note.

Dirilis oleh Focus Features pada 29 Mei 2020, The High Note menjadi salah satu pilihan favorit audiens platform on demand sejak penghujung bulan lalu. Film berdurasi 113 menit ini disutradarai oleh Nisha Ganatra. Sementara itu, naskahnya merupakan karya debut dari Flora Greeson yang terpilih dalam kurasi The Black List pada 2018 lalu.

Loading...

Di garis depan jajaran aktor, terdapat dua nama aktris yang segera akan mencuri perhatian kita, yakni Dakota Johnson dan Tracee Ellis Ross. Penampilan keduanya dalam The High Note didukung oleh sejumlah aktor lain, termasuk Kelvin Harrison Jr., Zoë Chao, Bill Pullman, Eddie Izzard, dan Ice Cube.

Sinopsis

Maggie Sherwoode (Dakota Johnson) telah bekerja tiga tahun sebagai asisten pribadi dari Grace Davis (Tracee Elliss Ross), seorang diva papan atas. Di tengah kesibukannya memastikan semua keperluan Grace terpenuhi, diam-diam Maggie memupuk aspirasinya sendiri untuk menjadi produser musik.

Pertemuan dengan seorang musisi muda berbakat bernama David Cliff (Kelvin Harrison Jr.) membuka kesempatan bagi Maggie untuk mulai mewujudkan impian personalnya. Di saat yang sama, Grace sampai pada persimpangan karir di mana semua pilihan yang ada nampak tak terlalu berpihak pada sang diva.

Review

Sejak awal, tak sulit mengetahui bahwa The High Note akan menjadi sebuah film feel-good yang alurnya mudah ditebak. Tak lama setelah film dimulai, muncul berbagai klip yang menggambarkan ketenaran seorang musisi R&B senior, Grace Davis.

Meski sekilas kehidupan sang diva terdengar ideal, Grace mengalami tekanan dari industri musik dan orang-orang dalam kehidupan personalnya sepanjang waktu. Saat karirnya mulai surut, Grace harus membuat pilihan sulit untuk perlahan mundur dengan aman atau membuat gebrakan baru yang berisiko.

Peran ini menjadi debut akting pertama Ross di sebuah film panjang. Sebagai putri musisi tersohor Diana Ross, Tracee Ross nampaknya tahu banyak bagaimana memancarkan karisma seorang diva. Ia berhasil menampilkan sosok musisi wanita kulit hitam yang percaya diri dan sinis di luar, namun rapuh di dalam.

Karakter Grace adalah bentuk ironi yang menggambarkan nasib para musisi saat bintang mereka mulai meredup. Tak sampai di situ, tekanan yang dialami Grace adalah pengingat bahwa industri musik juga berlaku lebih keras pada musisi dengan latar belakang minoritas seperti wanita dan ras non-kulit putih. Sayangnya, premis luar biasa ini bukanlah fokus utama dalam The High Note.

Protagonis utama kita adalah sang asisten pribadi Grace, seorang wanita muda naif dengan semangat tinggi bernama Maggie Sherwoode. Meski mencintai pekerjaannya dan mengagumi Grace, Maggie memiliki aspirasi terpendam untuk menjadi produser musik.

Kesempatan untuk meraih impian ini mulai terbuka saat Maggie bertemu dengan musisi berbakat David Cliff. Bukannya diisi dengan flirting klise, pertemuan pertama Maggie dan David justru menampilkan meet cute yang dipenuhi obrolan geeky yang lucu. Dibawakan secara memikat oleh Harrison Jr., lagu You Send Me milik legenda musik Sam Cooke mewarnai awal romansa Maggie dan David.

Dalam adegan yang mengambil latar sederhana di depan rak supermarket itu, Maggie dan David beradu pendapat tentang musisi-musisi ternama dalam sejarah. Ini membangkitkan sensasi yang serupa saat karakter yang diperankan Mark Ruffalo dan Keira Knightley bicara panjang lebar soal musik dalam Begin Again (2013).

Namun, tak seperti Begin Again dengan rangkaian soundtrack orisinal-nya yang catchy, The High Note nampaknya tak begitu menaruh perhatian dalam hal tersebut. Sebagai film yang mengusung musik sebagai tema utamanya, tidak banyak lagu orisinal yang disajikan. Soundtrack utama film ini, “Love Myself”, yang dibawakan sendiri oleh Ross, tak cukup berkesan untuk menggambarkan besarnya passion karakter Grace dalam dunia musik.

Secara umum, aspek paling menarik untuk diulas dari The High Note adalah naskah debut yang ditulis oleh Greeson. Naskah ini terpilih dalam The Black List 2018, publikasi impian bagi setiap penulis naskah pemula yang ingin melejitkan karir mereka.

Sama seperti tokoh utama yang ia ciptakan, Greeson sendiri sebelumnya merupakan asisten di berbagai perusahaan musik. Kisah Maggie, secara garis besar, memang berpijak dari kehidupan nyata Greeson.

Jika dirangkum, The High Note menjadi semacam versi lain dari The Devil Wears Prada (2006). Keduanya sama-sama menuturkan tentang perjuangan asisten pribadi dari sosok wanita terkenal yang karismatik.

Perbedaan utama dari dua film tersebut hanyalah dalam hal konteks cerita. Jika The Devil Wears Prada berkonteks dunia mode, The High Note bicara tentang industri musik.

Namun, tak seperti karakter Andrea di The Devil Wears Prada yang hidup dan memegang kontrol dalam kisahnya sendiri, Maggie jauh lebih polos dan datar. Akting Johnson semakin membuktikan bahwa meski mudah menarik empati, karakternya tak cukup signifikan untuk menjadi substansi utama cerita.

Apalagi, premis “mengejar mimpi” adalah sebuah konsep cerita klasik andalan Hollywood yang sudah usang. The High Note menyodorkan kembali konsep yang sama yang telah kita lihat berulang kali dari film-film inspiratif lain seperti The Pursuit of Happyness (2006), The Walk (2015), dan Joy (2015).

Setidaknya, latar belakang Greeson yang telah cukup lama bergelut dalam industri musik menjamin bahwa The High Note sudah pasti kaya dengan berbagai referensi seputar musik. Pengetahuan ensiklopedis Maggie tentang musik populer dari berbagai era ditampilkan lewat dialognya dengan para tokoh lain.

Salah satu momen penting The High Note adalah pada saat label rekaman Grace menawarkan opsi aman untuk “pensiun” dini bagi sang diva. Saat itu, Maggie menjadi satu-satunya orang yang menentang dan berusaha menyulut lagi ambisi bermusik Grace.

Disertai tatapan skeptis pada kenaifan Maggie, Grace melontarkan sebaris dialog paling penting di sepanjang film:

“Dalam sejarah musik, hanya lima wanita di atas usia 40 tahun yang lagunya jadi hit nomor satu, dan hanya satu dari mereka yang berkulit hitam. Satu. Kamu paham artinya? Kita bisa berpura-pura bahwa kita hidup di negeri ajaib di mana usia dan ras tidak jadi masalah.”

Sayangnya, baris dialog yang sehebat ini harus mendapat kursi belakang. Menempatkan karakter Maggie sebagai sentral cerita, The High Note lebih memilih memprioritaskan narasi “kejarlah impianmu” yang sudah berulang kali diangkat dalam film sebagai tema utamanya.

Film yang punya potensi besar untuk mengangkat kritik sosial penting ini justru berakhir hanya sebagai hiburan yang hangat dan menyenangkan. Seperti isi dialog Grace, The High Note pun menjadi kisah ala dongeng di mana semua hal berakhir dengan sempurna dan bahagia, dan bukannya merepresentasikan realitas.

Kesimpulan

The High Note adalah sebuah drama komedi yang memberi gambaran menghibur tentang industri musik di balik layar. Banyak hal yang membuat The High Note berhasil melampaui standar dalam film drama komedi berbumbu romansa pada umumnya. Film ini membawa kegembiraan dan perasaan hangat yang sangat kita perlukan di masa-masa gelap seperti saat ini.

Namun, sebagai film yang mencoba mengusung isu tentang industri musik yang problematik, sulit untuk menganggap serius The High Note sebagai refleksi yang signifikan. Isu ini hanya menjadi latar belakang cerita yang disampaikan secara tersirat dan minim.

 

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film The High Note (2020) – Film ala Dongeng tentang Problematiknya Industri Musik
7Overall Score
Reader Rating 1 Vote
10.0