Jika pada 2019 lalu Dora the Explorer dan Shaun the Sheep dirilis dalam bentuk film feature, tahun ini giliran serial Scooby-Doo, Where Are You! yang mendapatkan versi reboot-nya.

Nyaris 51 tahun telah berlalu sejak serial animasi legendaris tersebut pertama kali mengudara di televisi. Kini, reboot Scooby-Doo yang berjudul Scoob! ini rupanya bahkan direncanakan akan menjadi pembuka semesta sinematik milik studio Hanna-Barbera.

Ide pembuatan reboot Scooby-Doo mulai tersiar dari Warner Bros. sejak 2014. Sebagaimana banyak film lain,  Scoob! ditayangkan secara on demand pada 15 Mei lalu setelah perilisan teatrikalnya dibatalkan karena COVID-19.

Loading...

Tony Cervone, sutradara senior dalam ranah serial animasi televisi didapuk untuk mengarahkan Scoob!. Film ini menjadi kolaborasi empat penulis naskah sekaligus, yaitu Adam Sztykiel, Jack Donaldson, Derek Elliot, serta Matt Lieberman. Sementara, konsep ceritanya disusun oleh Lieberman bersama Eyal Podell dan Jonathan E. Stewart.

Tak hanya dari tim produksi, Scoob! juga melibatkan cukup banyak talenta di dalamnya. Termasuk di antara para pengisi suara film ini adalah Will Forte, Mark Wahlberg, Jason Isaacs, Gina Rodriguez, Zac Efron, Amanda Seyfried, Kiersey Clemons, Ken Jeong, Tracy Morgan, serta Frank Welker. Welker menjadi satu-satunya aktor dari versi orisinal serial tersebut yang kembali memainkan perannya sebagai pengisi suara Scooby-Doo.

Sinopsis

Di bagian awal film, Scoob! memberi latar belakang cerita tentang pertemuan antara Shaggy dan Scooby, serta awal mula terbentuknya Mystery Inc. Bertahun-tahun kemudian, Mystery Inc. dikenal luas sebagai lima remaja dan anjing mereka yang selalu berhasil memecahkan berbagai kasus misterius.

Namun, kemampuan Mystery Inc. kembali diuji ketika Dick Dastardly, seorang penjahat super berniat membuka gerbang ke Dunia Bawah. Dengan bantuan Blue Falcon dan awak Falcon Fury, mereka berusaha menghentikan aksi Dastardly yang bisa mengakibatkan lepasnya monster Cerberus dari dunia bawah tersebut.

Review

Scooby-Doo, Where Are You! adalah salah satu dari sejumlah kartun klasik yang mewarnai masa kecil saya. Sebagai salah satu penggemar lama serial ini, saya pun merasa cukup antusias saat mendengar bahwa Scooby-Doo dan kawan-kawannya akan di-reboot ke dalam sebuah film panjang. Tetapi, sejak awal, saya telah dihantui perasaan skeptis karena khawatir apabila versi reboot ini hanya akan mengacaukan kartun pendahulunya.

Jika bicara tentang reboot, hanya ada tiga alternatif yang mungkin terjadi. Pertama, seperti A Star is Born (2018), versi baru-nya bisa tampil lebih mengesankan. Kedua, adalah saat versi orisinal dan reboot-nya memiliki keunggulan masing-masing hingga membuat kualitas keduanya nyaris setara, sebagaimana seri Jumanji. Kemungkinan ketiga, dan sayangnya inilah yang terjadi pada Scoob!, adalah saat  reboot-nya adalah versi yang lebih mengecewakan.

Bagian terbaik dari Scoob!, dan mungkin menjadi satu-satunya bagian menyenangkan dari film ini, berlangsung selama tak lebih dari 15 menit pertama film. Di bagian ini, nuansa familiar dari kartun klasik Scooby-Doo, Where Are You! bisa membuat penggemar lama bernostalgia manis, sekaligus menarik minat para generasi muda yang berpotensi jadi penggemar baru.

Di prolog film Scoob!, Shaggy hanyalah seorang anak kecil kurus yang sulit menjalin pertemanan dengan anak-anak lain, hingga suatu hari ia menemukan sosok sahabat sejati pada seekor anjing terlantar yang ia beri nama Scooby-Dooby-Doo. Di malam Halloween, keduanya bertemu dengan tiga anak lain, memecahkan misteri bersama, dan membentuk geng Mystery Inc.

Sayangnya, begitu kisah ini usai, Scoob! mulai menyingkap narasi utama yang secara drastis melumpuhkan semua ekspektasi positif di awal. Scoob! mengusung cerita yang jauh berbeda dengan konsep dalam serial aslinya. Alih-alih menyajikan petualangan seru menyingkap misteri dan kejahatan terselubung, film ini bahkan sama sekali tak memuat unsur misteri dan teka-teki.

Film animasi ini justru lebih memilih cerita superhero sebagai tema utama. Scooby-Doo yang terpilih menjadi tokoh kunci dalam konflik, aksi kejar-kejaran superhero dan supervillain, serta misi mengumpulkan artefak, adalah tiga kerangka utama cerita Scoob!. Sayangnya, tiga hal ini tidak bisa dihubungkan dengan baik dan akhirnya menyebabkan keseluruhan jalan cerita menjadi overplotted.

Pembuatan ide dan naskah film Scoob! yang ditulis secara “keroyokan” oleh enam orang sekaligus membuatnya menjadi sangat tidak koheren. Enam pikiran ini menyumbangkan ide aneh mereka masing-masing, lalu merajutnya ke dalam cerita sebagai kepingan yang saling tidak sesuai.

Para penulis Scoob!, yang hampir semuanya adalah pria paruh baya, membuat narasi cerita ini kehilangan diversitas sudut pandang. Bapak-bapak ini berpikir bahwa sebagian lelucon dan referensi budaya pop yang mereka sertakan dalam film bisa membangkitkan tawa penonton, terutama bagi generasi muda.

Mulai dari Netflix, media sosial, (masukkan berbagai tren digital lain di sini), hingga Tinder tak luput disinggung oleh Scoob!. Film ini juga merujuk pada berbagai budaya populer, seperti Harry Potter, Lord of the Rings, hingga DC Comics, pada sejumlah dialognya. Ngerinya, kebanyakan budaya populer yang disebut ini adalah produk-produk sinematik dari Warner Bros. sendiri.

Paling tidak, saya berharap anak-anak kecil yang menonton film ini tak menyadari sejumlah jokes seksual dalam film Scoob!. Hal ini semestinya sudah bisa kita sadari begitu nama sang supervillain Dick Dastardly diperkenalkan.

Di sisi lain, sebagai film yang mengusung format animasi, Scoob! adalah adaptasi 3D dari kartun orisinalnya yang cukup impresif dan realistis dari segi teknis. Meski begitu, desain animasi Scoob! tak cukup artistik untuk bisa berkesan. Interior kapal Blue Fury, pulau Captain Caveman, hingga taman hiburan yang ditinggalkan, kosong akan detail serta terasa kaku dan membosankan.

Begitu film dimulai, penonton segera disodori dengan animasi berwarna teramat terang. Warna terang di sini bukanlah rona yang ceria dan asyik untuk disaksikan sebagaimana dalam The Willoughbys (2020), tetapi jenis warna yang mencolok dan menjenuhkan. Menonton animasi Scoob! sepanjang 94 menit durasi film ini membuat mata lelah dan rasa bosan dengan cepat merayap.

Para pengisi suara yang terdiri dari jajaran aktor kelas atas seakan hanya digunakan seperti strategi promosi untuk mendongkrak nilai komersial Scoob!. Entah bagaimana, sutradara Cervone tak berhasil mengarahkan para aktor untuk menuangkan impresi yang diinginkan pada masing-masing karakter.

Meski telah familiar dengan nama besar Mark Wahlberg, Zac Efron dan Amanda Seyfried, tanpa membaca daftar pemeran terlebih dulu, kehadiran mereka sebagai pengisi suara mungkin tak akan kita sadari hingga akhir film. Sebagai sosok yang telah mengisi suara Scoob! dalam berbagai versi animasi film ini sejak lama, Frank Walker menghidupkan satu-satunya karakter yang terasa otentik di Scoob! yakni Scooby-Doo sendiri.

Saya hanya tak memahami mengapa Lieberman dan para rekannya merasa perlu untuk menawarkan sesuatu yang berbeda lewat perubahan drastis yang dipaksakan. Mereka menanggalkan semua hal yang membuat seri lama Scooby-Doo menyenangkan, dan menggantinya jadi sebuah cerita ala superhero yang janggal. Film ini bahkan tak tepat jika disebut sebagai reboot.

Kesimpulan

Scoob! adalah film animasi yang menjadi reboot dari serial klasik Scooby-Doo, Where Are You! sekaligus landasan pacu bagi semesta sinematik Hanna-Barbera. Lieberman dan lima penulis naskah lain mencoba menawarkan konsep yang segar dan baru dalam film Scoob! dengan mengusung cerita superhero. Namun, tema tersebut seakan hanya digunakan untuk menyasar kesuksesan komersial dan mengeksploitasi tren terkini.

Scoob! sangat problematis dalam banyak hal, terutama pada naskah kolaborasi enam penulisnya yang kacau dan overplotted. Kemudian, ada pula berbagai lelucon serta referensi budaya pop garing, serta warna desain yang melelahkan untuk dilihat. Semua hal ini membuat Scoob! bahkan tak semestinya disebut sebagai reboot serial legendaris yang menjadi basis inspirasinya.

 

Note: Gulir/scroll ke bawah untuk melihat rating penilaian film.

Loading...

Review Film Scoob! (2020) – Reboot yang Tak Memuaskan dari Serial Legendaris Scooby-Doo
6Overall Score
Reader Rating 1 Vote
5.7